Ayo Membangun Sikap Ilmiah di Kampus


Dunia perguruan tinggi yang dikenal sebagai komunitas yang senantiasa menjunjung tinggi objektivitas, kebenaran ilmiah dan keterbukaan mempunyai tanggung jawab dalam mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai jawaban dari permasalahan yang muncul di masyarakat dengan metode yang modern. Ilmu pengetahuan sendiri merupakan pengetahuan yang sistematik, rasional, empiris, umum dan komulatif yang dihasilkan oleh akal pikiran manusia yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Tugas ini menjadi penting karena merupakan bagian dari pelaksanaan “Tri Dharma” perguruan tinggi dan menjadi lebih penting karena ada tiga fungsi ilmu pengetahuan yang sangat terkait dengan kelangsungan dan kemaslahatan hidup orang banyak, yaitu fungsi eksplanatif (menerangkan gejala atau problem), prediktif (meramalkan kejadian atau efek gejala) dan control (mengendalikan atau mengawal perubahan yang terjadi di masa datang).
Oleh Muhammad Hadidi,. S.Sy.MH
Melihat kenyataan seperti ini maka sivitas akademika (dosen dan mahasiswa) harus mempunyai sikap ilmiah untuk menunjang terlaksananya tugas-tugas tersebut dalam suasana akademik yang telah dibangun. Sikap ilmiah ini tidak saja terkait dengan pola pikir yang ilmiah, tetapi juga secara emosi (afektif) dan perilaku (psikomotor). Adapun sikap ilmiah yang harus dimiliki antara lain:

1.      Hasrat ingin tahu dan belajar terus menerus
      Berkembangnya sebuah ilmu pengetahuan tidak dapat dilepaskan dari dorongan atau hasrat ingin tahu (curiosity) yang merupakan sifat dasar manusia. Hilangnya dorongan ini akan mematikan atau melumpuhkan perkembangan ilmu pengetahuan. Di samping itu pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan tidak cukup hanya dimilikinya hasrat ingin tahu, tetapi harus ditunjang dengan sebuah tindakan (action) berupa belajar terus menerus. Kedua factor inilah yang akan membedakan seorang civitas akademika dengan komunitas lain dalam kehidupan masyarakat. Hilangnya kedua faktor ini akan menghilangkan keunikan sebuah perguruan tinggi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.
2.      Daya analisis yang tajam
      Setiap permasalahan dibutuhkan adanya analisis yang tajam untuk menentukan ketepatan dan kebenaran sebuah tindakan dari hasil pemecahan masalah. Analisis yang tajam juga dibutuhkan manakala variasi terjadinya masalah sangat banyak, sehingga jika tidak teliti dalam menganalisis akan mengakibatkan kekaburan atau ketidaktepatan produk dari solusi yang diberikan. Daya analisis yang tajam akan sangat membantu dalam memberikan solusi-solusi yang kreatif dan inovatif dalam kehidupan ini, karena analisis yang baik akan dapat mengurai permasalahan yang dihadapi dengan baik pula.
3.      Jujur dan terbuka
      Dalam dunia akademik kejujuran dan keterbukaan menjadi kunci pembuka berkembangnya ilmu pengetahuan. Kejujuran dan keterbukaan juga menjadi ciri dari pribadi yang sehat dan matang. Hal ini dapat dimengerti manakala kejujuran dan keterbukaan sudah hilang dari diri civitas akademika (baca: mahasiswa), maka yang terjadi adalah mundurnya ilmu pengetahuan, berkembangnya perilaku negatif berupa penjiplakan karya ilmiah, berhentinya pemikiran-pemikiran baru dan ketidakmampuan mengembangkan suasana akademik yang sehat.
4.      Kritis terhadap pendapat yang berbeda
      Perbedaan pendapat dalam dunia perguruan tinggi (akademik) adalah sesuatu yang wajar dan alamiah, karena adanya heterogenitas (kemajemukan) civitas akademika baik melalui pola pikir maupun kepribadian. Perbedaan ini akan meningkatkan daya kritis kita manakala disikapi dengan sikap positif dan bertanggung jawab. Artinya adanya kesadaran yang tinggi bahwa setiap perbedaan mempunyai akar perbedaan yang harus dicari dan didekati dengan suasana akademik yang sehat dan masing-masing pihak bertanggung jawab terhadap apa yang telah dikeluarkannya.
Perbedaan tidak berarti sebuah permusuhan atau ketidaktenangan antar pihak, melainkan menunjukkan keberagaman pemikiran dan dapat dijadikan sebagai stimulus untuk melakukan pendekatan-pendekatan menuju tujuan yang lebih baik. Kritis terhadap sebuah perbedaan yang terjadi akan meningkatkan semangat untuk mencari solusi yang terbaik dalam menghadapi permasalahan jika masing-masing pihak menyadari pentingnya tujuan bersama.
5.      Tanggung jawab yang tinggi
Setiap civitas akademika mempunyai tanggung jawab sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing. Pelaksanaan terhadap tanggung jawab ini akan menentukan keberhasilan komulatif dari fungsi sebuah perguruan tinggi. Tanggung jawab yang dimiliki tidak hanya terkait dengan internal lingkungan akademisi tetapi juga lingkungan global yang ada di luar (eksternal). Permasalahan-permasalahan yang menyelimuti dunia perguruan tinggi, yang muncul di tengah masyarakat, percaturan berbangsa dan bernegara di tengah globalisasi harus ikut menjadi perhatian civitas akademika, sehingga apa yang akan dilakukan akan mempunyai nilai tambah yang lebih besar.
6.      Bebas dari prasangka
Munculnya prasangka dalam diri seseorang akan mempengaruhi pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya. Prasangka akan mempunyai dampak terhadap kondisi fisik dan non fisik (psikologis) seseorang. Prasangka dapat melemahkan upaya yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Prasangka juga dapat mengakibatkan seseorang terganggu kondisi psikologisnya yang dapat berakibat pada konflik (intrapersonal dan interpersonal) serta stress. Apabila kedua hal ini telah terpengaruh maka hasil yang diharapkan tidak optimal bahkan tujuan yang ingin dicapai tidak dapat terlaksana.
Prasangka bisa menjadi bom waktu dalam pelaksanaan tugas seseorang karena munculnya perasaan tidak senang atau perilaku yang tidak menyenangkan yang setiap saat akan berakibat negatif bagi pelaksanaan tugas dan tercapainya tujuan baik secara individu maupun organisasi (lembaga).
7.      Menghargai nilai, norma, kaidah dan tradisi keilmuan
Perguruan tinggi mempunyai budaya dan tradisi yang unik dan khas sebagai lembaga keilmuan yang membedakan dengan lembaga lainnya dalam masyarakat. Salah satu tradisi keilmuan yang tetap dikembangkan adalah adanya kebebasan dan mimbar akademik, kebebasan berpikir dan berpendapat serta nilai keterbukaan dalam mengembangkan keilmuan. Penghargaan terhadap nilai yang telah dikembangkan ini menjadi salah satu ciri terjadinya penerimaan fungsi perguruan tinggi dalam mengembangkan keilmuan dan pengabdian kepada masyarakat, sehingga setiap civitas akademika perlu memiliki sikap-sikap ini. Penghargaan ini juga menjadi ciri khas seorang civitas akademika yang berkepribadian sehat dan matang dalam menjalankan fungsi-fungsinya.