Anda Pemuda Seharusnya Menolak prilaku Konsumtif, Narkoba dan Seks diluar Nikah



Mahasiswa terutama yang indekost memiliki aneka kebutuhan belanja yang beragam, disamping tentu saja kebutuhan untuk kuliahnya. Keberagaman kebutuhan ini memang cukup menyesakkan bahkan memusingkan bila dipikirkan, terutama oleh kelompok mahasiswa dengan kantong pas-pasan. Kebutuhan hidup akan semakin meningkat dan sulit dipenuhi manakala sudah tercampur dengan keinginan-keinginan pribadi akibat dorongan sosial mahasiswa.
Konsumtif adalah suatu sikap hidup yang gemar secara berlebihan untuk berbelanja dan keinginannya untuk berbelanja tersebut seringkali tidak memperhatikan tingkat prioritas dari barang-barang yang dibeli sehingga secara otomatis tidak memperhatikan kemampuan keuangan (besar pasak daripada tiang). Akibat yang ditimbulkan dari perilaku konsumtif ini adalah gaya hidup boros, gali lubang tutup lubang dan pada akhirnya terjebak pada krisis keuangan yang serius (kebiasaan berhutang, memiliki utang yang besar dan bahkan muncul tindakan kriminal). Kondisi ini tentunya akan mempengaruhi konsentrasi dan perilaku dalam perkuliahan, sehingga tidak sedikit mahasiswa yang tidak mampu melanjutkan study akibat dari perilaku konsumtif ini.

Secara umum perilaku konsumtif mahasiswa ini dapat dikaji melalui berbagai kondisi, antara lain kondisi psikologis mahasiswa yang rentan dengan pola konsumsi berlebihan (masa remaja). Mahasiswa yang merupakan masa peralihan masa remaja dan dewasa memiliki pola keinginan pengakuan sosial yang lebih besar. Pengakuan sosial ini diartikan oleh mahasiswa dalam bentuk fisik semata, sehingga konsep “Aku Berbelanja maka Aku Ada” lebih dominan dalam pola penerimaan sosial bagi mahasiswa. Disamping itu strategi produsen dalam memasarkan barang dagangannya diserta dengan menjamurnya mall makin mempengaruhi perilaku konsumtif pada mahasiswa. Mall seringkali menjadi rumah kos alternatif bagi sebagian mahasiswa dan menjadi tempat menyimpan uang dari hasil jerih payah orang tua serta mampu menjadi pilihan utama dalam kegiatan refreshing setelah kesibukan perkuliahan. Dengan berbagai cara baik melalui iklan, memunculkan trend baru dalam berpakaian maupun mengembangkan imajinasi konsumtif, produsen mampu menarik keinginan mahasiswa untuk membeli barang yang sebetulnya tidak menjadi prioritas kebutuhannya.
Perilaku konsumtif sebenarnya dapat dibedakan antara perilaku konsumtif yang wajar dan tidak wajar. Perilaku konsumtif yang wajar dapat dikenali dengan perilaku belanja yang tidak besar pengeluaran daripada pendapatan. Sebaliknya apabila perilaku belanjanya ”besar pengeluaran daripada pendapatan” maka mahasiswa tersebut telah terjebak dalam perilaku konsumtif yang serius dan perlu mendapatkan perhatian dari orang-orang terbaik disekitarnya.
Pada stadium perilaku konsumtif yang supar (sudah parah), mahasiswa seringkali lupa diri sehingga bukannya sadar melainkan justru menuntut orang tua memberikan kiriman yang lebih banyak dan menjadikan uang kuliah menjadi uang jajannya. Pada kondisi tertentu mahasiswa dapat melakukan perbuatan kriminal dan diluar perhitungan diri sendiri karena ketidakmampuan mengendalikan perilaku belanjanya. Kondisi ini akan semakin parah manakala support teman (peer group) mengarah kepada hal-hal yang negatif (menguatkan perilaku konsumtif) dan orang tua tidak memberikan perhatian lebih banyak terhadap perilaku tersebut.
Ada beberapa solusi yang dapat dilakukan oleh mahasiswa untuk mengurangi perilaku konsumtif tersebut, antara lain: mengarahkan pikiran ke hal-hal yang produktif (wirausaha), mencari kelompok teman (peer group) yang mendukung kegiatan-kegiatan positif, khususnya peningkatan prestasi akademik, mengikuti kegiatan pengembangan minat dan bakat (kemahasiswaan), memberikan perhatian lebih tinggi terhadap kegiatan perkuliahan dan mengingat kembali tujuan dan target kuliah, khususnya dikaitkan dengan harapan keluarga. Berkumpul dengan teman-teman yang mengajak kepada kebaikan bukan hanya memberikan keuntungan sementara namun keuntungan jangaka panjang. Hal ini dikarenakan salah satu perubahan sikap seseorang dapat terjadi pada lingkungan yang baik. 

B.       Menghindari Pergaulan bebas dan seks di luar nikah
Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu kabar miring yang sering kita dengar tentang mahasiswa indekost adalah mengenai pergaulan bebas. Peluang terjadinya pergaulan bebas (seksual) di kalangan mahasiswa yang kost relatif cukup besar, mengingat mereka jauh dari pengawasan orang tua; perkembangan psikologis dan sosial, khususnya yang berkaitan dengan kebutuhan seksual dan pengakuan orang lain (sosial); dan tidak adanya pengawasan dari pemilik rumah kost (lingkungan sekitar kost). Sistem kontrol yang lemah dan tidak didukung oleh kepribadian serta iman yang kuat dari mahasiswa akan membuat perilaku mahasiswa tidak terkendali. 
Pada dasarnya pergaulan bebas dan seks di luar nikah merupakan akibat dari berbagai situasi dan kondisi yang sangat kompleks. Ditinjau dari aspek psikologis, pergaulan bebas sering diakibatkan adanya permasalahan internal mahasiswa yang tidak terpecahkan, misalnya problem kepercayaan diri yang rendah sehingga membutuhkan penerimaan sosial yang lebih tinggi dari lingkungan sosialnya, kekecewaan terhadap lawan jenis yang pernah menyakiti hatinya, kegagalan dalam membina hubungan dengan lawan jenis, ketidaksiapan mental dalam mengikuti arus perubahan hubungan sosial, kekecewaan terhadap orang tua yang kurang memberikan perhatian terhadap perkembangan dirinya serta ketidakmampuan dalam mengelola emosi.
Sementara ditinjau dari aspek sosial, pergaulan bebas dan seks pranikah banyak ditimbulkan oleh adanya perubahan jaringan informasi yang sangat radikal, dimana informasi tentang seks banyak dijumpai di berbagai media tanpa adanya kontrol atau penyaringan, kondisi lingkungan (masyarakat) yang tidak jarang membiarkan munculnya perilaku negatif dalam hubungan antar lawan jenis, kurangnya sanksi (sosial, moral dan fisik) terhadap pelanggaran tersebut dan lingkungan keluarga yang kurang memberikan kontrol dan pendidikan seks terhadap mahasiswa.
Keadaan ini apabila dibiarkan maka akan semakin menjerumuskan mahasiswa kepada jurang kegagalan dan kehancuran masa depannya. Banyak mahasiswa yang tidak dapat melanjutkan studi karena terjerumus dalam pergaulan bebas yang berujung kepada perbuatan melanggar hukum yang dikenai sanksi (akademik maupun pidana). Tidak jarang pula mahasiswa yang studinya berantakan karena ketidakmampuan mengelola waktu dan tenaga akibat telah  terlena dengan kenikmatan pergaulan bebas.
Berbagai solusi dapat diberikan untuk mengurangi atau menghindari pergaulan bebas ini, antara lain memilih teman bergaul yang baik (mendukung pencapaian prestasi), mengalokasikan waktu dan tenaga untuk aktif diberbagai kegiatan ekstrakurikuler, merenungkan kembali tujuan kuliah di perguruan tinggi dan akibat dari perbuatan pergaulan bebas tersebut serta meningkatkan pemahaman tentang masalah moral dan agama. Secara empiris dapat ditemukan bahwa mahasiswa yang cenderung mengalokasikan waktu dan tenaganya dalam kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler akan terhindar dari pergaulan bebas dan seks pra nikah.

C.      Menghindari Penggunaan NAPZA (Narkotik, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya)
Selain mewaspadai bahaya perilaku seksual di luar nikah, mahasiswa juga harus pandai menjaga dirinya dari bahaya NAPZA. NAPZA bukan sekedar meninabobokan mahasiswa tetapi juga mengancam masa depan mahasiswa baik secara individual maupun sebagai generasi muda. Telah banyak data yang membuktikan tentang kehancuran masa depan akibat NAPZA ini, mulai dari studi yang tidak pernah selesai sampai hukuman pidana yang yang harus dijalani.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan mahasiswa terperosok ke dalam NAPZA, antara lain:
a.       Mengira NAPZA dapat menguatkan eksistensi diri (perasaan ingin diakui)
b.      Mengira NAPZA dapat menambah rasa percaya diri
c.       Mengira NAPZA dapat melepaskan diri dari kebosanan dan frustasi
d.      Menangkap pesan keren dari media yang menayangkan figur yang pernah terjerumus penggunaan NAPZA
e.       Mengira NAPZA dapat membuat pergaulan lebih luas dan beken
f.       Mengira dapat terlihat lebih dewasa dengan menggunakan NAPZA
g.      Mengira NAPZA sebagai ekspresi pemberontakan
h.      Mengira NAPZA dapat menghilangkan stress secara instan
i.        Alasan mencoba-coba
Mahasiswa yang telah terjerumus dalam penggunaan NAPZA cenderung sulit keluar dari kondisi tersebut, karena secara biologis telah muncul “ketagihan”, secara psikologis telah merasa nyaman dengan penggunaan NAPZA yang dianggap mampu menjadi alat “pelarian” problem psikologis dan dalam konteks jaringan peredaran, mereka akan selalu diawasi dan dikendalikan agar tidak memberkan informasi “terlarang” kepada pihak lain yang berakibat terbongkarnya jaringan tersebut. Kondisi-kondisi inilah yang perlu dipahami oleh mahasiswa tentang betapa berbahayanya apabila kita mulai menggunakan NAPZA.
Ada beberapa solusi yang dapat kita lakukan agar tidak terjerumus dalam pemakaian NAPZA, antara lain: memilih lingkungan pergaulan yang sehat dan aman yang mampu menunjang peningkatkan kualitas diri (akademik dan non akademik), mengarahkan perhatian terhadap hal-hal yang positif, mengalokasikan waktu lebih banyak kepada kegiatan pengembangan potensi diri, memikirkan masa depan yang akan dijalani dengan melihat masa-masa sebelumnya yang sudah dijalani (pengorbanan orang tua, tanggungjawab terhadap keluarga dan harapan orang lain) serta adanya upaya peningkatan dan mengaplikasikan perilaku dan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.


SUMBER DAFTAR PUSTAKA

Fajar, M & Effendi M. 2000. Dunia Perguruan Tinggi & Kemahasiswaan. UMM Press: Malang.

Hadi, Sutrisno. 1989. Metode Research. Yayasana Penerbitan Fak. Psikologi UGM: Yogyakarta.

Havighurst, R. 1992. Psikologi Perkembangan. Erlangga: Jakarta.

Mu’tadin, Z. 2002. Kemandirian Sebagai Kebutuhan Psikologis Pada Remaja, diakses pada tanggal 4 November 2014 dari  http//www.e-psikologi.com/remaja/250602.htm

Rini, J. 2001. Asertifitas, diakses pada tanggal 4 November 2014 dari http//www.e-psikologi.com/ dewasa/assertif.htm

http://www.kopertis4.or.id//akreditasi/PEDOMAN/Buku/Suasana Akademik.pdf