Kedudukan Qanun & Mekanisme Pengawasannya


5.1  Kesimpulan
      Berdasarkanhasilpenelitiantesisinisebagaimanadalamrumusanmasalahpada Bab I makadapatsimpulkanadalahsebagaiberikut:
5.1.1   KedudukanQanun Aceh DalamHierarkiPerundang-Undangan Indonesia
     Menurut UUPA No 11 Tahun 2006 kedudukanQanun Aceh diaturdalamPasal 1 ayatberbunyi: (21) Qanun Aceh adalahperaturanperundang-undangansejenisperaturandaerahprovinsi yang mengaturpenyelenggaraanpemerintahandankehidupanmasyarakat Aceh. Ayat (22) QanunKabupaten/Kota adalahperaturanperundang-undangansejenisperaturandaerahKabupaten/Kota yang mengaturpenyelenggaraanpemerintahandankehidupanmasyarakatKabupaten/Kota di Aceh.

                 JikaQanun Aceh sejenisPerdamakamenurut UUP3 No 12 Tahun 2011 dalamPasal 7 kedudukanPerda/Qanun yang sejenisberadapadaurutankeenamsetelahPeraturanPresiden. JadikedudukanQanun Aceh dalamheirarkiperundang-undangan Indonesia dapatdisimpulkansejenisdenganPeraturan Daerah (Perda) danberadapadaurutankeenam.


5.1.2   MekanismePengawasanQanunOlehPemerintahdanKonsekuensiHukumnya
               BerdasarkanPasal 235 UUPA No 11 Tahun 2006 mekanismepengawasanpemerintahterhadapQanun Aceh dilaksanakanolehpemerintahberdasarkan
1.    PengawasanPemerintahterhadapqanundilaksanakansesuaidenganperaturanperundang-undangan.
2.    Pemerintahdapatmembatalkanqanun yang bertentangandengankepentinganumum; antarqanun; danperaturanperundangundangan yang lebihtinggi, kecualidiatur lain dalamUndangUndangini.
3.    QanundapatdiujiolehMahkamahAgungsesuaidenganperaturanperundangundangan.
4.    Qanunsebagaimanadimaksudpadaayat (3) yang mengaturtentangpelaksanaansyari’at Islam hanyadapatdibatalkanmelaluiujimateriolehMahkamahAgung
5.    SebelumdisetujuibersamaantaraGubernurdan DPRA, sertabupati/walikotadan DPRK, Pemerintahmengevaluasirancanganqanuntentang APBA danGubernurmengevaluasirancangan APBK.
6.    Hasilevaluasisebagaimanadimaksudpadaayat (5) bersifatmengikatGubernurdanbupati/walikotauntukdilaksanakan.
 
   KemudiandalamQanun Aceh Nomor 3 Tahun 2007 tentang Tata carapembentukanQanunolehpemerintahpengawasanPemerintahdiaturjugasudahdiaturdalamPasal 47.  UntukQanun yang sejenisperda (qanunumum Aceh) mekanismepengawasaanyajugaadaadabeberapapersamaansebagaimana yang telahdiaturpadaUndang-UndangNomor 23 Tahun 2014 tentangPemerintahan Daerah evaluasirancanganPerda/QanunsejenisdiaturdalamPasal 245, Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 80 Tahun 2015 Tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah termaktubdalamBab Viii tentangEvaluasi Rancangan PerdapadaPasal 91 sampaiPasal 97.
   MakadapatdisimpulkanmekanismepengawasanuntukQanunKhusus Aceh yang materimuatannyamengaturtentangpelaksanaansyari’at Islam UUPA pengawasannyaharusmenurutPasal 235 ayat (4) UU No. 11 Tahun 2006 sebagaimanabunyipadapoin (3) Qanun Aceh yang mengaturtentangpelaksanaansyari’at Islam hanyadapatdibatalkanmelaluiujimateriilolehMahkamahAgung (MA).
Untuk Qanun umum mekanisme pengawasannya bisa di lakukan dengan represif dan preventif sedangkan untuk Qanun khusus mekanisme pengawasannya dapat dilakukandengan pengawasan represif saja mengingat qanun khusus Aceh (Qanun syari’at Islam ) hanya dapat dibatalkan melalui uji materiil (yudicial review) di Mahkamah Agung (MA).
   Sedangkan konsekuensi hukumnya dari pengawasan pemerintah untuk Qanun umum Aceh dapat berupa penangguhan, evaluasi, revisi hingga pada pembatalan jika bertentangan dengan kepentingan umum dan hierarki perundang-undangan, sedangkan untuk Qanun khusus Aceh konsekuensinya hukumnya jika terbukti bertentangan dengan kepentingan umum dan syrai’at Islam dapat direvisi bahkan dibatalkan sesuai dengan keputusan MA.
5.2    Saran
               PemerintahharussealukonsistendalampengawasanterhadapQanun Aceh Qanun Aceh harusselaluberlandaskannilai-nilaikeislaman yang berpegangpadaasaskislamanuntuksetiaplegislagiQanun yang di rancanguntuk di berlakukansehinggaQanun Aceh dapatmemberikankemaslahatanbagiseluruhmasyarakat di Aceh.  Mengingatnilai-nilaikeislamandalamQanunmerupakankekhususandanjiwamasyarakat Aceh.
5.3RekomendasiPenelitian
           Ada beberapa yang harus di benahiterkaitkedudukandanmekanismepengawasanQanun Aceh yang selamaini yang telahdiaturdalamperaturanperundang-undangan. Upaya yang perludilakukandalamrangkapembenahankedudukandanmekanismepengawasannyaQanun Aceh olehPemerintahadalahsebagaiberikut:
1.   Pemerintahprovinsi Aceh dankabupaten/kotasertapemerintahantingkatdesa di seluruhProvinsi Aceh menjadikanQanunsebagailandasanhukum yang sahdanmemadaiuntukuntukmenerapkannilai-nilaikeislamandisegalasendikehidupanbagiseluruhmasyarakat Aceh padakhususnyasertadiharapkanQanun Aceh dapatmenjadicontohbagiseluruh  Daerah di seluruh Indonesia dalammenerapkansyari’at Islam secarakaffah (menyeluruh)
2.   PemerintahPusatharusterusberkoordinasidenganmelibatkanpemerintahpropinsi Aceh dalammengawasikualitasQanunprovinsimaupunKabupaten/Kota sesuaidenganmekanismepengawasanberjenjang  yang  telahdiatur;
3.   PemerintahPusatdanPemerintah Aceh perlumelakukanreviewdanmembenahistrukturorganisasibagianatau  unit  kerjapemerintahpropinsi Aceh  yang  berhubungandenganpengawasanQanunumummaupunQanunkhusussesuaidengankebutuhanorganisasi di daerahuntukmengawasiQanun;
4.   Mengaturmekanismepemeriksaanpermohonanjudicial  reviewQanundenganmelibatkanpemeriksaanpemohondantermohon,  ahlidandilakukandalamsidangterbuka;
5.   Menghapuspembebananbiayapendaftarandanbiayapenangananperkaradalampermohonanjudicial reviewQanun.